Idealis.co.id – Malam sering turun terlalu cepat di rumah kecil berdinding pelupuh bambu di Dusun Tanjung Aur, Gumay Ulu.
Ketika hujan datang, suara tetes air dari seng tua yang penuh lubang menjadi lagu panjang tentang kemiskinan. Angin masuk dari celah-celah dinding bambu yang mulai rapuh.
Rumah itu nyaris roboh. Tak ada kemewahan. Tak ada kenyamanan. Bahkan untuk sekadar disebut rumah layak pun terasa jauh.
Di rumah sederhana itulah, seorang anak kecil bernama Aswa Azhari Latul tumbuh.
Anak pertama kelahiran 19 September 2002 dari tiga bersaudara pasangan Edi Agusman dan Yeti Anah itu lahir dari keluarga petani.
Orang tuanya bekerja keras di kebun, menggantungkan hidup pada hasil tanah yang tak selalu menjanjikan.
Namun, sejak kecil, hidup seolah tak pernah benar-benar ramah kepadanya.
Saat mulai bersekolah di SD Negeri 4 Gumay Ulu tahun ajaran 2008/2009, Aswa datang membawa harapan seperti anak-anak lain.
Dengan seragam sederhana dan perlengkapan sekolah yang diusahakan orang tuanya sepenuh tenaga, ia melangkah ke sekolah tanpa pernah tahu bahwa hari-hari berikutnya akan menjadi luka panjang.
Di sekolah, bukan tepuk tangan yang ia terima.
Melainkan ejekan.
Bullying.
Cacian.
Tatapan merendahkan.
Anak kecil itu tumbuh bersama kalimat-kalimat yang menusuk harga dirinya.
Lebih menyakitkan lagi, menurut pengakuannya, ada ucapan dari seorang guru yang begitu lama tinggal di kepalanya—bahwa dirinya dianggap tidak pintar, tidak punya kemampuan.
Kalimat itu menghantam seorang anak kecil yang bahkan belum mengerti bagaimana cara membela dirinya sendiri.
Setiap pulang sekolah, dengan uang jajan hanya Rp500 atau Rp1.000 di saku, ia berjalan pulang sambil memendam pertanyaan yang terus menggantung di kepala kecilnya:
“Tuhan… apa aku memang tidak punya kemampuan seperti teman-teman yang lain?”
Pertanyaan itu tak pernah benar-benar hilang.
Bahkan hingga dewasa.
Trauma itu ikut tumbuh bersamanya.
Namun hidup rupanya masih menyisakan secercah cahaya.
Ketika duduk di kelas 4 SD, seorang guru yang masih memiliki hubungan keluarga mulai melihat sesuatu dalam diri Aswa yang mungkin tidak pernah dilihat orang lain.
Pelan-pelan, anak yang biasa berada di ranking bawah mulai berubah.
Dari posisi nyaris terakhir, ia naik menjadi peringkat delapan.
Hari itu, dengan perasaan takut bercampur tidak percaya, Aswa bertanya:
“Buk, ini nilai saya sungguhan? Bukan karena kita keluarga?”
Jawaban gurunya sederhana.
Tapi menjadi titik balik hidupnya.
“Tidak, Nak. Itu hasil kamu sendiri.”
Kalimat itu seperti menyalakan sesuatu yang selama ini padam.
Untuk pertama kalinya, Aswa percaya:
Mungkin… dirinya tidak sebodoh yang selama ini orang katakan.
Namun ujian belum selesai.
Di rumah, keadaan justru semakin berat.
Ibunya jatuh sakit.
Berhari-hari hanya bisa terbaring di kasur.
Melihat ibunya tak mampu lagi banyak bergerak, Aswa kecil memilih menelan masa kanaknya lebih cepat.
Sepulang sekolah, ketika anak-anak lain bermain, ia justru memikul beban hidup.
Ia berjualan es mambo.
Membawa termos kecil.
Berjalan menawarkan es dari satu tempat ke tempat lain.
Kadang menjual sayur hasil kebun keluarga.
Kadang pulang dengan sedikit uang.
Kadang pulang tanpa apa-apa.
Tapi ia tetap berjalan.Karena di rumah ada ibu yang sakit.
Ada keluarga yang harus bertahan.
Lalu, di tengah hidup yang terasa terlalu berat untuk anak seusianya, sebuah pertolongan datang dengan cara yang nyaris tak ia pahami.
Saat Sri Meliyana mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI, ayahnya menjadi bagian dari tim lapangan.
Suatu hari, sang ayah pulang dengan wajah berbeda.
Lalu berkata:
“Nak, besok kita ke pasar. Beli tas, buku, sepatu, alat tulis.”
Aswa kecil langsung melonjak bahagia.
Sudah lama ia tak merasakan kabar seindah itu.
Dengan polos ia bertanya:
“Siapa yang ngasih duit, Pak?”
Ayahnya menjawab pelan:
“Ibuk Sri Meliyana.”
Anak kecil itu diam.
Tak paham siapa nama itu.
Dalam bayangannya yang sederhana, Sri Meliyana hanyalah sosok seperti orang kaya dalam sinetron televisi—baik hati, tinggal di rumah besar, suka membantu orang miskin.
Tapi hari itu…
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa diperhatikan.
Ia merasa hidupnya berarti.
Esoknya, ia pergi ke sekolah dengan tas baru.
Sepatu baru.
Buku baru.
Dan semangat yang selama ini hampir mati.
Meski begitu, ia tetap membawa termos es untuk dijual.
Karena kemiskinan tidak berhenti hanya karena seseorang mendapat bantuan.
Sepulang sekolah, ia pernah bertanya kepada ibunya:
“Mak… Ibuk Sri itu yang mana?”
Ibunya menunjuk kalender tua di dinding rumah.
“Itu, Nak.”
Aswa kecil menatap gambar di kalender itu lama.
Diam.
Lalu membatin:
“Oh… ini orang kaya yang nolong aku.”
Bantuan itu, menurut kisahnya, terus terasa hingga masa SMP di SMP Negeri 1 Gumay Ulu.
Suatu hari, Sri Meliyana datang ke sekolah dalam sebuah kegiatan sosialisasi.
Aswa termasuk siswa yang tampil menari menyambut kedatangan tamu.
Di tengah keramaian itu, ia sempat berjabat tangan.
Berfoto.
Namun tak punya keberanian bicara.
Ia hanya memandang.
Dalam hati kecilnya:
“Ini orang yang pernah bantu aku.”
Waktu berlalu.
Ia masuk SMK Negeri 4 Lahat jurusan perhotelan.
Kesulitan ekonomi tetap menjadi bayang-bayang.
Namun jalan hidupnya kembali dipertemukan dengan orang-orang baik.
Seseorang yang ia panggil “Woh”, yakni Nozyan Ariko Suhendra, membantu keluarganya melalui kebun karet agar ekonomi rumah tangga tetap bertahan.
Setelah lulus sekolah, ketika mimpi kuliah nyaris padam karena biaya, hadir pula Nangkada Lindungan Putra yang membantu membuka jalan pendidikan.
Aswa akhirnya kuliah di Universitas Terbuka jurusan Manajemen.
Hingga sebuah hari di semester enam menuju tujuh…
Takdir mempertemukannya lagi dengan masa kecilnya.
Di sebuah kegiatan sosialisasi di rumah dinas bupati, ia datang tanpa tahu siapa tamu utama.
Lalu pintu terbuka.
Dan ia membeku.
Yang datang adalah Sri Meliyana.
Tangannya dingin.
Dadanya sesak.
Matanya tak lepas menatap sosok yang dulu hanya ia lihat lewat kalender rumah.
Sosok yang tanpa sadar pernah membuat seorang anak miskin kembali percaya sekolah masih mungkin diperjuangkan.
Usai acara, ia memberanikan diri mendekat.
Berjabat tangan.
Lalu memeluknya.
Dan di situlah…
Tangis yang bertahun-tahun tertahan pecah.
Sejadi-jadinya.
Tangis seorang anak petani.
Tangis anak kecil yang dulu pernah pulang sekolah sambil bertanya kepada Tuhan kenapa dirinya dianggap bodoh.
Tangis seorang anak yang pernah berjualan es sambil menyimpan malu.
Tangis seseorang yang nyaris menyerah pada keadaan.
“Terima kasih, Buk…”
Hanya itu yang sanggup keluar.
Menurut penuturannya, Sri Meliyana kemudian berkata pelan:
“Selesaikan kuliahmu. Buktikan kamu mampu. Kamu bisa. Kamu hebat.”
Kalimat sederhana.
Namun bagi Aswa…
Itu terdengar seperti seseorang akhirnya percaya pada dirinya.
Kini, anak kecil dari rumah pelupuh yang dulu diejek dan diremehkan itu telah menyelesaikan pendidikan hingga sarjana.
Dan mungkin, hidup memang bekerja dengan cara paling sunyi:
Kadang, satu tas sekolah, satu pasang sepatu, atau satu tangan yang mau peduli… cukup untuk menyelamatkan masa depan seseorang.









