Idealis.co.id, Pagaralam— Tidak semua kedai kopi lahir dari modal besar dan konsep megah. Sebagian tumbuh perlahan, dari ketekunan, keterbatasan, dan keyakinan bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil. Kisah itu melekat pada Cafe Nongkrong Kopi Doesoen, yang kini berdiri hangat di Jalan Pagar Jaya Kelurahan Nendagung, Kota Pagaralam.
Di balik nama Kopi Doesoen, ada sosok Ronald, seorang pecinta kopi yang memulai langkahnya jauh sebelum tren kedai kopi menjamur seperti sekarang. Tahun 2012, ketika alat seduh modern masih sulit didapat, Ronald membuka kedai kopi sederhana berbentuk gerobakan di pinggir jalan Kota Palembang. Tidak banyak menu yang disajikan—hanya kopi hitam dan Vietnam drip—namun dari situlah cita rasa dan mimpi diracik perlahan.

“Awalnya hanya untuk teman-teman,” kenang perjalanan itu. Kopi bukan sekadar minuman, melainkan medium pertemuan, percakapan, dan kebersamaan.
Lahirnya Es Kopi Doesoen
Perjalanan itu kemudian bergerak. Tahun 2016, Ronald bersama istrinya membawa Kopi Doesoen menginjakkan kaki di Baturaja. Setahun berselang, sebuah pertemuan sederhana justru menjadi titik penting. Ronald berkenalan dengan penjual gula aren dari Danau Ranau serta petani kopi dari Desa Belandang, OKU.
Dari obrolan dan kepercayaan, lahirlah kolaborasi. Gula aren lokal bertemu kopi daerah, disatukan dalam segelas minuman yang kini menjadi ciri khas: Es Kopi Gula Aren, yang kemudian diberi nama Es Kopi Doesoen.
Minuman ini bukan sekadar menu andalan, tetapi simbol perjalanan—tentang petani, perajin, dan pelaku usaha yang saling menguatkan.
Merawat Sinergi Hulu dan Hilir
Kopi Doesoen tumbuh dengan keyakinan bahwa usaha tidak bisa berjalan sendiri. Ada hulu, tempat petani menanam dan merawat kopi. Ada hilir, tempat cita rasa diolah dan disajikan.
Keduanya harus saling menggenggam.
Dengan semangat itu, Kopi Doesoen memilih menyerap bahan baku lokal, khususnya dari Sumatera Selatan. Gula aren dan kopi daerah menjadi bukti bahwa kekayaan lokal tidak kalah bersaing dengan produk dari luar.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Sumatera Selatan punya kualitas,” menjadi prinsip yang terus dijaga hingga hari ini.
Bertahan Bersama Komunitas
Perjalanan Kopi Doesoen tidak selalu mulus. Ada keterbatasan, ada masa jatuh bangun, ada saat harus bertahan di tengah perubahan zaman. Namun satu hal yang tidak pernah berubah: kehadiran komunitas.
Kopi Doesoen berdiri bukan semata karena pemiliknya, tetapi karena Teman Sedoesoen—mereka yang memilih bertahan, mendukung, dan merawat ruang ini bersama-sama. Di meja-meja kopi, tumbuh obrolan, ide, dan persahabatan.
Kini, Kopi Doesoen bukan hanya tempat minum kopi. Ia menjadi ruang temu, tempat singgah, dan saksi perjalanan panjang sebuah mimpi yang dirawat dengan kesabaran.
Dari gerobak sederhana hingga cafe nongkrong di Pagaralam, Kopi Doesoen membuktikan bahwa kopi terbaik sering lahir dari proses yang jujur—perlahan, konsisten, dan berakar pada tanah sendiri.









