Dari Gerobak ke Ruang Nongkrong: Jejak Panjang Kopi Doesoen di Pagaralam

- Jurnalis

Selasa, 13 Januari 2026 - 17:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Idealis.co.id, Pagaralam— Tidak semua kedai kopi lahir dari modal besar dan konsep megah. Sebagian tumbuh perlahan, dari ketekunan, keterbatasan, dan keyakinan bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil. Kisah itu melekat pada Cafe Nongkrong Kopi Doesoen, yang kini berdiri hangat di Jalan Pagar Jaya Kelurahan Nendagung, Kota Pagaralam.

Di balik nama Kopi Doesoen, ada sosok Ronald, seorang pecinta kopi yang memulai langkahnya jauh sebelum tren kedai kopi menjamur seperti sekarang. Tahun 2012, ketika alat seduh modern masih sulit didapat, Ronald membuka kedai kopi sederhana berbentuk gerobakan di pinggir jalan Kota Palembang. Tidak banyak menu yang disajikan—hanya kopi hitam dan Vietnam drip—namun dari situlah cita rasa dan mimpi diracik perlahan.

Foto : Ronald Owner Cafe Kopi Doesoen

“Awalnya hanya untuk teman-teman,” kenang perjalanan itu. Kopi bukan sekadar minuman, melainkan medium pertemuan, percakapan, dan kebersamaan.

Lahirnya Es Kopi Doesoen

Perjalanan itu kemudian bergerak. Tahun 2016, Ronald bersama istrinya membawa Kopi Doesoen menginjakkan kaki di Baturaja. Setahun berselang, sebuah pertemuan sederhana justru menjadi titik penting. Ronald berkenalan dengan penjual gula aren dari Danau Ranau serta petani kopi dari Desa Belandang, OKU.

Baca Juga :  Bupati Lahat Apresiasi PC NU Dan Marga Tionghoa Bagikan Ratusan Karung Beras

Dari obrolan dan kepercayaan, lahirlah kolaborasi. Gula aren lokal bertemu kopi daerah, disatukan dalam segelas minuman yang kini menjadi ciri khas: Es Kopi Gula Aren, yang kemudian diberi nama Es Kopi Doesoen.

Minuman ini bukan sekadar menu andalan, tetapi simbol perjalanan—tentang petani, perajin, dan pelaku usaha yang saling menguatkan.

Merawat Sinergi Hulu dan Hilir

Kopi Doesoen tumbuh dengan keyakinan bahwa usaha tidak bisa berjalan sendiri. Ada hulu, tempat petani menanam dan merawat kopi. Ada hilir, tempat cita rasa diolah dan disajikan.

 

Keduanya harus saling menggenggam.

Dengan semangat itu, Kopi Doesoen memilih menyerap bahan baku lokal, khususnya dari Sumatera Selatan. Gula aren dan kopi daerah menjadi bukti bahwa kekayaan lokal tidak kalah bersaing dengan produk dari luar.

Baca Juga :  Sosok Mediator Dan Negosiator Yang Berhasil Membuat PT. SMS Tak Berkutik Penuhi Tuntutan 34 Desa Di Kecamatan Kikim Raya Dan Gumay Talang

“Kami ingin menunjukkan bahwa Sumatera Selatan punya kualitas,” menjadi prinsip yang terus dijaga hingga hari ini.

 

Bertahan Bersama Komunitas

Perjalanan Kopi Doesoen tidak selalu mulus. Ada keterbatasan, ada masa jatuh bangun, ada saat harus bertahan di tengah perubahan zaman. Namun satu hal yang tidak pernah berubah: kehadiran komunitas.

Kopi Doesoen berdiri bukan semata karena pemiliknya, tetapi karena Teman Sedoesoen—mereka yang memilih bertahan, mendukung, dan merawat ruang ini bersama-sama. Di meja-meja kopi, tumbuh obrolan, ide, dan persahabatan.

Kini, Kopi Doesoen bukan hanya tempat minum kopi. Ia menjadi ruang temu, tempat singgah, dan saksi perjalanan panjang sebuah mimpi yang dirawat dengan kesabaran.

Dari gerobak sederhana hingga cafe nongkrong di Pagaralam, Kopi Doesoen membuktikan bahwa kopi terbaik sering lahir dari proses yang jujur—perlahan, konsisten, dan berakar pada tanah sendiri.

Berita Terkait

Overpass Batu Bara Dibangun di Lahat, Warga Menanti Manfaat Nyata
Masjid Delima Diresmikan, Ikhtiar Toni Tatung Hadirkan Rumah Ibadah dan Amal Jariyah bagi Umat
KASUS PEMBUNUHAN IBU KANDUNG DI LAHAT: JPU Haikal Hafidh S.H., M.H., AJUKAN TUNTUTAN PIDANA MATI
Rompi, Surat Tugas, “Investigasi”, Lalu Apa? Ketua GNPK RI Sumsel Sentil LSM yang Datangi Proyek APBD Lahat
Obstruction of Justice Internet Desa Masuk Pengadilan, Kejari Muba Dalami Aset Pemda hingga Hibah Porprov
Namanya Disebut Terkait Kebakaran Lahan Ulak Lebar, Fiji: “Tuduhan Itu Tidak Benar”
El Niño Mengintai Lahat, DPRD Marwan Ardiansyah S.E., M.Si., Desak Pemkab Jangan Tunggu Warga Kehausan
M. Dzaky Alvaro, Putra Pegawai Kejari Lahat, Antarkan SMAN 4 Lahat Juara 1 LCC Museum Sriwijaya

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Overpass Batu Bara Dibangun di Lahat, Warga Menanti Manfaat Nyata

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:44 WIB

Masjid Delima Diresmikan, Ikhtiar Toni Tatung Hadirkan Rumah Ibadah dan Amal Jariyah bagi Umat

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:17 WIB

KASUS PEMBUNUHAN IBU KANDUNG DI LAHAT: JPU Haikal Hafidh S.H., M.H., AJUKAN TUNTUTAN PIDANA MATI

Jumat, 11 September 2026 - 09:43 WIB

Obstruction of Justice Internet Desa Masuk Pengadilan, Kejari Muba Dalami Aset Pemda hingga Hibah Porprov

Selasa, 8 September 2026 - 18:44 WIB

Namanya Disebut Terkait Kebakaran Lahan Ulak Lebar, Fiji: “Tuduhan Itu Tidak Benar”

Kamis, 3 September 2026 - 15:18 WIB

El Niño Mengintai Lahat, DPRD Marwan Ardiansyah S.E., M.Si., Desak Pemkab Jangan Tunggu Warga Kehausan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:26 WIB

M. Dzaky Alvaro, Putra Pegawai Kejari Lahat, Antarkan SMAN 4 Lahat Juara 1 LCC Museum Sriwijaya

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:14 WIB

Datun Kejari Lahat Bergerak! Ahmad Muzayyin Pimpin Misi Pulihkan Kerugian Daerah Rp2,18 Miliar

Berita Terbaru

Foto : Gubernur Sumsel Herman Deru Dibincangi Awak Media

Breaking news

Overpass Batu Bara Dibangun di Lahat, Warga Menanti Manfaat Nyata

Rabu, 21 Okt 2026 - 14:08 WIB