Idealis.co.id, Lahat – Banjir yang terus berulang di Kota Lahat, khususnya di Kelurahan Pasar Lama dan kawasan Sekip Sidomulyo, tak lagi bisa dianggap sebagai sekadar dampak cuaca ekstrem. Fakta di lapangan justru mengarah pada persoalan klasik: pembiaran tata ruang yang semrawut dan lemahnya pengawasan pemerintah.
Ironisnya, wilayah yang jauh dari aliran besar seperti Sungai Lematang justru menjadi langganan banjir setiap hujan turun. Ini bukan soal alam, tapi soal kelalaian yang dibiarkan menumpuk tanpa solusi nyata.
Warga menuding, sistem drainase yang semestinya menjadi jalur vital aliran air justru kehilangan fungsinya. Siring yang seharusnya mengalirkan air dengan lancar, kini berubah fungsi—tertutup bangunan yang berdiri tanpa kejelasan penataan.
Joko, warga Kelurahan Pasar Lama, secara gamblang menyebut adanya bangunan yang berdiri tepat di atas siring besar di sekitar Kuburan Sekip. Kondisi ini, menurutnya, jelas menghambat aliran air dan memperparah genangan saat hujan.
“Kalau aliran airnya saja sudah ditutup bangunan, mau dialirkan ke mana lagi air itu? Ini bukan sekadar sampah, tapi sudah soal bangunan yang berdiri di tempat yang tidak semestinya,” tegasnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: bagaimana bangunan tersebut bisa berdiri? Di mana peran pengawasan pemerintah selama ini?
Yuni, warga lainnya, menilai persoalan ini bukan hanya soal drainase, tetapi juga kegagalan dalam membangun kesadaran kolektif dan penegakan aturan.
“Penataan itu penting, tapi kalau tidak tegas, ya percuma. Harus ada tindakan nyata, bukan hanya imbauan,” ujarnya.
Nada lebih keras datang dari Yuli (38), warga Sekip Sidomulyo. Ia menilai pemerintah daerah tidak bisa lagi menutup mata atas kondisi yang terus berulang setiap tahun.
“Pak Bupati, ini bukan lagi keluhan baru. Kami sudah terlalu sering kebanjiran. Kalau bangunan di atas siring itu tidak ditertibkan, banjir akan terus jadi ‘hadiah rutin’ setiap hujan. Kami butuh tindakan, bukan janji,” katanya tegas.
Desakan warga ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Lahat. Tanpa penertiban dan penegakan aturan yang tegas, banjir bukan hanya akan terus terjadi—tetapi juga menjadi simbol gagalnya pengelolaan tata kota.









