Idealis.co.id, Lahat – Komunitas Pencinta Sejarah (KAJAH) Provinsi Sumatera Selatan terus memantapkan program pelestarian sejarah dan budaya lokal sebagai upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap warisan peradaban daerah.
KAJAH Sumsel diketahui berdiri sejak tahun 2020, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Di tengah keterbatasan aktivitas sosial dan mobilitas masyarakat, komunitas ini justru lahir melalui ruang digital sebagai respons atas minimnya perhatian terhadap sejarah lokal Sumatera Selatan yang kian terlupakan.
KAJAH didirikan oleh Yanuar Anoseputra selaku founder, dengan Hafis Firmansyah atau yang akrab disapa Teratai sebagai ketua. Sejak awal berdiri, KAJAH hadir sebagai wadah bagi masyarakat yang memiliki minat dan kepedulian terhadap sejarah, tradisi, serta adat budaya lokal Sumatera Selatan.
Ketua KAJAH Sumsel, Hafis Firmansyah didampingi Yanuar Anoseputra, mengatakan bahwa pembentukan KAJAH dilatarbelakangi oleh kegelisahan terhadap semakin pudarnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah daerahnya sendiri.
“Sumatera Selatan memiliki sejarah yang panjang dan luar biasa. Namun banyak peristiwa, tokoh, dan peradaban besar yang tidak lagi dikenal. Inilah yang mendorong kami membentuk KAJAH,” ujarnya. Sabtu, (03/01/2026).
KAJAH Sumsel memiliki sejumlah tujuan utama, di antaranya mengkaji sejarah dan tradisi Sumatera Selatan secara kritis dan berkelanjutan, mengangkat serta melestarikan adat dan budaya lokal yang tergerus modernisasi, serta menjadi wadah silaturahmi dan diskusi bagi para pencinta sejarah dan budaya tradisional.
Selain itu, KAJAH juga fokus menggali kembali sejarah-sejarah yang terlupakan, baik berupa peristiwa penting, ketokohan pendiri daerah, suku-suku asli, hingga kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya di wilayah Sumatera Selatan.
Menurut KAJAH, Sumatera Selatan bukan sekadar wilayah administratif, melainkan salah satu daerah yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Nusantara, bahkan disebut sebagai salah satu cikal bakal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Melalui kajian, diskusi, dokumentasi, dan publikasi, kami ingin menghidupkan kembali narasi besar Sumatera Selatan agar tidak hilang ditelan zaman,” tambah Hafis.
Ke depan, KAJAH Sumsel berkomitmen untuk terus memperluas gerakan kesadaran sejarah di tengah masyarakat, sekaligus menjadi garda terdepan dalam pelestarian sejarah dan budaya lokal Sumatera Selatan.









