Rachmat Aqbar S.H., M.K.n : Jalan Hidup yang Memilihkan Hukum

- Jurnalis

Selasa, 6 Januari 2026 - 14:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Rachmat Aqbar S.H., M.Kn

Foto : Rachmat Aqbar S.H., M.Kn

 

Saya tidak pernah bermimpi menjadi seorang jaksa

Sejak awal, dunia hukum bukanlah tujuan hidup saya.

Ayah saya seorang pengacara. Mungkin justru karena itu, saya ingin menjauh dari bayang-bayang hukum. Saya membayangkan masa depan di dunia pertambangan—dunia lapangan, dunia teknis, jauh dari ruang sidang yang pengap, berkas perkara, dan palu hakim. Saya ingin hidup yang berbeda dari apa yang setiap hari saya lihat pada diri ayah.

Namun hidup sering kali berjalan dengan kehendaknya sendiri.

Entah mengapa, setiap kali mengikuti tes—ke mana pun dan apa pun—saya selalu “ditarik” ke bidang hukum. Seolah ada tangan tak terlihat yang terus mendorong saya kembali ke jalur yang sejak awal ingin saya hindari. Semakin saya menjauh, semakin kuat ia memanggil.

Sejak muda, saya telah melihat wajah hukum dari jarak yang sangat dekat

Saya menjadi saksi sengketa Pemilu Wali Kota Bengkulu. Suasana sidang kala itu masih terpatri jelas dalam ingatan saya: tegang, panas, penuh emosi. Di Bengkulu, pada masa itu, masyarakat yang hadir di persidangan bahkan ada yang membawa senjata tajam. Hukum bukan sekadar pasal dan aturan; ia hidup di tengah konflik sosial yang nyata, rapuh, dan mudah meledak.

“Setiap kali ayah bersidang, saya menyaksikan sendiri bahwa hukum adalah medan pertarungan. Bukan hanya pertarungan argumen, tetapi juga harga diri, kekuasaan, dan nasib manusia.

Setelah tamat kuliah, arah hidup justru terasa semakin kabur. Saya bingung. Pernah ada tawaran menjadi PNS—jalan yang aman, pasti, dan stabil. Namun hati saya belum benar-benar menetap. Ada kegelisahan yang tak bisa dijelaskan.

Baca Juga :  Kajari Lahat Pimpin Langsung Perang Terhadap Koruptor Di PN Lahat

Saya terus mengikuti berbagai tes, termasuk ketika masih menempuh pendidikan di UGM Yogyakarta. Hingga pada satu titik, hidup memberi pukulan paling keras: ayah saya meninggal dunia.

Sejak saat itu, saya tidak lagi hanya seorang mahasiswa. Saya menjadi tulang punggung keluarga. Tanggung jawab datang terlalu cepat. Saya harus menopang ekonomi keluarga, apa pun caranya.

Tidak ada gengsi dalam bertahan hidup

Saya bekerja apa saja yang halal. Pernah menjadi driver Grab, menyusuri Jakarta siang dan malam, menukar waktu, tenaga, dan lelah demi dapur yang tetap mengepul. Saya menumpang hidup di rumah kawan—belajar tentang arti persahabatan, keterbatasan, dan solidaritas dalam satu waktu.

Tahun 2019, saya menyelesaikan pendidikan S2. Di titik itu, saya sempat berpikir untuk masuk dunia politik, menjadi anggota dewan. Saya ingin memperjuangkan sesuatu dari ruang kebijakan, mengubah keadaan lewat regulasi dan keputusan.

Namun sekali lagi, hidup memilihkan jalan lain.

Tahun 2020, saya mendaftar tes Jaksa di Kejaksaan Agung RI. Saat itu kondisi ekonomi saya masih jauh dari mapan. Di kepala saya hanya ada satu pertanyaan sederhana: bagaimana caranya saya bertahan hidup dan tetap bertanggung jawab pada keluarga?

Saya mengikuti seluruh proses tes tanpa uang, tanpa jalan pintas, tanpa lobi—berbeda dengan isu-isu yang sering beredar. Saya hanya membawa keyakinan, doa, dan kejujuran.

Alhamdulillah, saya lulus.

Di situlah saya mulai berdamai dengan takdir. Jalan hukum yang sejak awal terasa asing, ternyata adalah jalan yang perlahan saya pahami maknanya. Bukan sekadar profesi, tetapi pengabdian.

Baca Juga :  Pencarian Hari Ke-3, Ibu Korban Berharap Banyak Pada Tim Basarnas Gabungan

Saya pertama kali meniti karier sebagai calon jaksa di Kejaksaan Negeri Kutai Barat, di bawah Kejaksaan Tinggi Provinsi Kalimantan Timur. Dari sana, saya dipindahkan ke Kejaksaan Negeri Halmahera Utara, wilayah Kejaksaan Tinggi Maluku Utara, dan resmi menjalankan tugas sebagai jaksa.

Di Maluku Utara, saya merasakan langsung bagaimana hukum benar-benar bersentuhan dengan gejolak sosial. Saya pernah bersidang sebagai Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Maluku Utara, menangani perkara penganiayaan, pengrusakan, hingga pembunuhan. Pada salah satu persidangan, tiga truk massa datang ke pengadilan. Tekanan begitu nyata. Ancaman bukan sekadar kemungkinan—ia berdiri tepat di depan mata.

Di ruang sidang itulah saya kembali diingatkan: hukum bukan pekerjaan yang steril. Ia penuh risiko, emosi, dan nyali. Ia menuntut keteguhan, bukan hanya kecerdasan.

Perjalanan itu kemudian membawa saya kembali ke Sumatera Selatan. Saya melanjutkan karier di Kejaksaan Negeri Lahat, di bawah Kejaksaan Tinggi Sumsel, dan hari ini mengemban amanah sebagai Kepala Sub Seksi Pidana Umum (Kasubsi Pidum).

Saya tahu betul, hukum tidak selalu hitam-putih. Ia berkelindan dengan nasib manusia, dengan latar belakang, tekanan hidup, dan pilihan-pilihan sulit. Dan mungkin, justru karena saya pernah berada di titik paling bawah—kehilangan, kekurangan, dan kebingungan—saya belajar menjalankannya dengan hati.

Saya tidak pernah bermimpi menjadi jaksa.
Tetapi mungkin, hidup memang bermimpi saya menjadi satu.

Berita Terkait

Dari Belitang untuk Lahat: Pelatihan Perikanan yang Berujung pada Penilaian Bupati oleh Kemendagri
Dinas Perikanan Lahat Perkuat BBI Kota Agung dan SDM Pembudidaya, Dorong Kemandirian Perikanan Daerah
Dinas Perikanan Lahat Bantah Mentah-mentah Isu Pengadaan Fiktif, Sebut Kontraktor Telat Bangun Kolam Jadi Pangkal Kekisruhan Program
PT. LPPBJ Berhenti Beroperasi, Ribuan Warga Merapi Selatan Terancam Kehilangan Mata Pencaharian
Dari Lapangan Rindam II/Sriwijaya, 475 Sarjana Disiapkan Menjadi Garda Terdepan Penggerak Ekonomi Desa dan Pesisir
PT DAM Mangkir Mediasi, Warga Soroti Tidak Ada Konsultasi Publik UKL-UPL dan AMDAL
Datun Kejari Lahat Selamatkan Uang Rakyat Rp1,6 Miliar, Pemkab Lahat Beri Apresiasi Tinggi
TNI AD GELAR KARYA BAKTI BERSAMA MASYARAKAT, PERCEPAT PEMBANGUNAN MASJID DI TANGGAMUS

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 10:06 WIB

Dari Belitang untuk Lahat: Pelatihan Perikanan yang Berujung pada Penilaian Bupati oleh Kemendagri

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:18 WIB

Dinas Perikanan Lahat Perkuat BBI Kota Agung dan SDM Pembudidaya, Dorong Kemandirian Perikanan Daerah

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:11 WIB

Dinas Perikanan Lahat Bantah Mentah-mentah Isu Pengadaan Fiktif, Sebut Kontraktor Telat Bangun Kolam Jadi Pangkal Kekisruhan Program

Kamis, 25 Juni 2026 - 17:48 WIB

PT. LPPBJ Berhenti Beroperasi, Ribuan Warga Merapi Selatan Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:33 WIB

Dari Lapangan Rindam II/Sriwijaya, 475 Sarjana Disiapkan Menjadi Garda Terdepan Penggerak Ekonomi Desa dan Pesisir

Rabu, 13 Mei 2026 - 15:13 WIB

PT DAM Mangkir Mediasi, Warga Soroti Tidak Ada Konsultasi Publik UKL-UPL dan AMDAL

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:38 WIB

Datun Kejari Lahat Selamatkan Uang Rakyat Rp1,6 Miliar, Pemkab Lahat Beri Apresiasi Tinggi

Rabu, 6 Mei 2026 - 10:55 WIB

TNI AD GELAR KARYA BAKTI BERSAMA MASYARAKAT, PERCEPAT PEMBANGUNAN MASJID DI TANGGAMUS

Berita Terbaru