Idealis.co.id – Dikebanyakan daerah ketika Konferensi Cabang sudah usai, mestinya menjadi penanda berakhirnya kontestasi di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia. Yang menang silakan bekerja. Yang kalah tetap terhormat. Karena ini organisasi profesi, bukan arena sabung ego.
Tapi rupanya ada yang belum selesai.
Di sebuah momen yang mestinya cair dan kolegial, buku tamu mendadak naik kasta. Ia bukan lagi sekadar lembar administrasi, melainkan simbol penegasan: “Kalian tamu.”
Tamu?
Padahal yang hadir adalah wartawan. Anggota sah. Memiliki kartu keanggotaan. Tercatat secara aturan. Mereka bukan penyusup, bukan penonton, bukan pula simpatisan dadakan. Ironisnya, yang dipertontonkan bukan etika pers—melainkan etika pesta.
Sejak kapan sesama anggota organisasi profesi diperlakukan seperti undangan hajatan? Sejak kapan rival dalam demokrasi internal berubah status menjadi “orang luar” begitu palu sidang diketuk?
Kalau benar buku tamu itu diniatkan sebagai administrasi, mengapa terasa seperti stempel kekalahan?
Kalau benar ini soal tata tertib, mengapa aromanya seperti balas dendam?
Pers mengajarkan independensi.
Pers menjunjung profesionalisme.
Pers menolak arogansi.
Namun yang tampak justru sebaliknya: demokrasi selesai, tapi permusuhan dipelihara. Konfercab sudah bubar, tapi sekat mental masih dipasang rapat.
Lucu? Iya.
Memprihatinkan? Jelas.
Organisasi profesi seharusnya menjadi rumah bersama, bukan ruang tunggu penuh sindiran. Wartawan adalah pengawas kekuasaan—bukan aktor kecil yang larut dalam drama kekuasaan internal.
Jika di dalam rumah sendiri saja masih sibuk menandai siapa “tamu” dan siapa “tuan”, bagaimana mau bicara soliditas? Bagaimana mau bersuara lantang soal etika publik, jika etika kolega saja tersandung di meja registrasi?
Buku tamu itu mungkin hanya kertas.
Tapi cara memperlakukannya bisa mencerminkan isi kepala.
Dan publik tahu, wartawan seharusnya lebih dewasa dari sekadar urusan tanda tangan.
Tulisan ini sekedar opini, jika ada yang meras tersinggung anggap saja ini cuma sekedar curahan hati penulis agar kejadian dimaksud tak benar-benar terjadi.









