Idealis.co.id, Lahat – Kadang polemik besar tidak lahir dari angka, regulasi, atau dalil panjang. Ia justru lahir dari satu hal yang jauh lebih sederhana: cara berbicara.
Begitulah kira-kira yang kini terjadi setelah video wawancara Erwin, pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lahat, beredar luas di media sosial. Video itu memuat tanggapan terhadap pernyataan Candra mengenai wacana kenaikan zakat.
Alih-alih menjadi penjelasan yang menyejukkan, statemen tersebut justru terdengar seperti kuliah singkat tentang zakat kepada seorang Sekretaris Daerah. Nada yang muncul dalam video itu seolah mengatakan satu hal sederhana: ada yang belum paham zakat, dan kebetulan orang itu adalah Sekda.
Publik tentu bebas menilai. Dan publik di era media sosial biasanya tidak menilai dengan pelan-pelan.
Kolom komentar pun berubah menjadi ruang sidang terbuka. Netizen datang tanpa undangan, membawa palu virtual masing-masing. Bukan untuk membahas fiqih zakat secara mendalam, melainkan mempertanyakan satu hal yang lebih sederhana: etika dalam berbicara.
Sebab bagi banyak orang, perbedaan pendapat antara pejabat daerah dan lembaga keagamaan bukanlah hal aneh. Yang menjadi soal adalah ketika perbedaan itu terasa seperti pelajaran sepihak di depan kamera.
“Kalau berbeda pendapat boleh saja, tapi jangan sampai terkesan merendahkan. Sekda itu pimpinan tertinggi ASN di daerah,” tulis seorang netizen, yang barangkali tidak sedang ingin belajar fiqih, melainkan sekadar mengingatkan soal tata krama.
Di tengah polemik itu, satu kalimat dari video tersebut menjadi sorotan:
“Makanya dipahami dulu pak Sekda itu, jangan asal-asal mengeluarkan statmen. Supaya tidak ada kisruh antara pemerintah daerah dengan Baznas.”
Kalimat yang mungkin dimaksudkan sebagai klarifikasi itu justru terdengar seperti teguran terbuka. Dan publik, seperti biasa, lebih cepat menangkap nada daripada maksud.
Ironinya terasa semakin kental karena lembaga yang sedang dipersoalkan adalah BAZNAS—sebuah institusi yang mengelola dana umat dan sering berbicara tentang nilai kepedulian, keteladanan, serta akhlak.
Maka wajar jika sebagian orang mulai bertanya dengan nada satir:
apakah kebijaksanaan juga termasuk dalam kategori zakat yang perlu ditunaikan?
Sebab dalam urusan publik, sering kali bukan isi yang membuat orang tersinggung. Nada lah yang membuat semuanya terdengar lebih tajam dari seharusnya.
Kini bola panas ada di tangan pimpinan BAZNAS Lahat. Ia bisa saja memilih menjelaskan persoalan ini dengan kepala dingin. Atau membiarkan video itu terus beredar, hidup di antara ribuan komentar yang semakin hari semakin kreatif dalam menyindir.
Di dunia media sosial, satu hal sudah lama terbukti:
netizen mungkin bukan ahli zakat, tetapi mereka sangat ahli membaca nada.









