Birokrasi Lahat, Antara Loyalitas atau Kompetensi? Jangan-Jangan Kursi OPD Hanya Milik “Orang Dekat”

- Jurnalis

Sabtu, 28 Maret 2026 - 13:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Wakil Bupati Lahat Widia Ningsih S.H.,

Foto : Wakil Bupati Lahat Widia Ningsih S.H.,

Idealis.co.id – Di atas kertas, birokrasi itu soal sistem. Soal aturan. Soal merit.

Tapi di lapangan? Kadang yang bekerja bukan sistem—melainkan “kedekatan”.

 

Pernyataan Wakil Bupati Lahat, Widia Ningsih, yang dengan tegas menolak praktik jual beli jabatan, seharusnya jadi angin segar. Kalimatnya lantang, nadanya keras, pesannya jelas: tidak ada ruang untuk transaksi jabatan.

 

Masalahnya, publik hari ini tidak hanya butuh pernyataan.

Publik butuh bukti.

Sebab di balik struktur OPD yang berdiri rapi itu, beredar bisik-bisik yang sulit diabaikan:

benarkah semua yang duduk di kursi strategis benar-benar karena kompetensi?

 

Atau jangan-jangan, sebagian hanya karena “akses” dan “kedekatan”?

Jika jabatan diisi oleh mereka yang dekat dengan penguasa, maka birokrasi bukan lagi alat pelayanan publik—melainkan alat pengamanan kekuasaan.

 

Dan di titik itu, kita tidak sedang membangun pemerintahan.

Kita sedang merawat lingkaran.

Baca Juga :  Patroli Di Perbatasan, Kasat Lantas Polres Lahat Tebar Puluhan Helm Serta Bagi Bagi Sembako

Lebih ironis lagi, ketika yang paling vokal bicara soal perubahan justru berasal dari sistem yang sama.

 

Retorika jadi lantang, tapi praktik masih berjalan pelan—atau bahkan tidak bergerak sama sekali.

Kita terlalu sering mendengar janji “akan dibenahi”, “akan dievaluasi”, “akan dirapikan”.

 

Sayangnya, kata “akan” di birokrasi seringkali lebih panjang umurnya daripada masa jabatan itu sendiri.

Publik sudah terlalu kenyang dengan kalimat normatif.

Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi narasi, tapi keberanian memutus rantai.

 

Kalau memang tidak ada jual beli jabatan, maka buktikan dengan satu hal paling sederhana:

transparansi.

Buka prosesnya.

Tunjukkan indikatornya.

 

Jelaskan kenapa seseorang layak duduk di satu posisi.

Karena tanpa itu, setiap rotasi akan selalu dicurigai.

Setiap promosi akan selalu dipertanyakan.

Dan setiap pidato akan terdengar seperti pengulangan lama—yang semakin lama, semakin kehilangan makna.

Baca Juga :  Hari Kedua Dikmaba TNI AD & Diktuba Polri T.A 2021 Menerima Mata Pelajaran Psikologi Lapangan Oraum Di Dodik Secaba Kodam II/Sriwijaya

 

Lebih jauh lagi, birokrasi yang diisi oleh “orang dekat” cenderung punya satu ciri khas:

pandai bicara, tapi miskin kerja.

Mereka fasih menyusun kalimat dalam rapat.

Lancar menjelaskan program di atas kertas.

Tapi gagap ketika harus menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

 

Dan di situlah ironi terbesar itu muncul:

jabatan diisi, anggaran berjalan, laporan tersusun rapi—tapi dampaknya nyaris tak terasa.

 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pernyataan keras seperti yang disampaikan Wabup hanya akan menjadi satu lagi arsip retorika: terdengar tegas, tapi tak pernah benar-benar mengguncang.

 

Karena pada akhirnya, masalah birokrasi bukan pada apa yang diucapkan. Melainkan pada siapa yang benar-benar berani mengeksekusi.

 

Dan publik Lahat kini menunggu satu hal sederhana:

apakah ini benar-benar awal perubahan—

atau sekadar episode baru dari pidato yang lama?

Berita Terkait

Dari Belitang untuk Lahat: Pelatihan Perikanan yang Berujung pada Penilaian Bupati oleh Kemendagri
Dinas Perikanan Lahat Perkuat BBI Kota Agung dan SDM Pembudidaya, Dorong Kemandirian Perikanan Daerah
Dinas Perikanan Lahat Bantah Mentah-mentah Isu Pengadaan Fiktif, Sebut Kontraktor Telat Bangun Kolam Jadi Pangkal Kekisruhan Program
PT. LPPBJ Berhenti Beroperasi, Ribuan Warga Merapi Selatan Terancam Kehilangan Mata Pencaharian
Dari Lapangan Rindam II/Sriwijaya, 475 Sarjana Disiapkan Menjadi Garda Terdepan Penggerak Ekonomi Desa dan Pesisir
PT DAM Mangkir Mediasi, Warga Soroti Tidak Ada Konsultasi Publik UKL-UPL dan AMDAL
Datun Kejari Lahat Selamatkan Uang Rakyat Rp1,6 Miliar, Pemkab Lahat Beri Apresiasi Tinggi
ODOL: Hukum yang Kelebihan Muatan, Akal Sehat yang Kekurangan Rem
“Ketika loyalitas lebih dihargai dari kapasitas, maka yang tumbuh bukan prestasi—tapi stagnasi.”

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 10:06 WIB

Dari Belitang untuk Lahat: Pelatihan Perikanan yang Berujung pada Penilaian Bupati oleh Kemendagri

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:18 WIB

Dinas Perikanan Lahat Perkuat BBI Kota Agung dan SDM Pembudidaya, Dorong Kemandirian Perikanan Daerah

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:11 WIB

Dinas Perikanan Lahat Bantah Mentah-mentah Isu Pengadaan Fiktif, Sebut Kontraktor Telat Bangun Kolam Jadi Pangkal Kekisruhan Program

Kamis, 25 Juni 2026 - 17:48 WIB

PT. LPPBJ Berhenti Beroperasi, Ribuan Warga Merapi Selatan Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:33 WIB

Dari Lapangan Rindam II/Sriwijaya, 475 Sarjana Disiapkan Menjadi Garda Terdepan Penggerak Ekonomi Desa dan Pesisir

Rabu, 13 Mei 2026 - 15:13 WIB

PT DAM Mangkir Mediasi, Warga Soroti Tidak Ada Konsultasi Publik UKL-UPL dan AMDAL

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:38 WIB

Datun Kejari Lahat Selamatkan Uang Rakyat Rp1,6 Miliar, Pemkab Lahat Beri Apresiasi Tinggi

Senin, 27 April 2026 - 21:07 WIB

ODOL: Hukum yang Kelebihan Muatan, Akal Sehat yang Kekurangan Rem

Berita Terbaru