Idealis.co.id– Malam ini tak ada gemerlap lampu pendopo, tak ada protokol berlapis. Hanya sebuah rumah, karpet hangat yang ditata seadanya, dan obrolan yang mengalir hangat di antara secangkir kopi dan kue bolu dan brownies cake.
Di kediaman Ketua SMSI Kabupaten Lahat, Minggu malam (05/04/2026), sejumlah insan media siber berkumpul. Mereka datang bukan sekadar memenuhi undangan Rapat Kerja Daerah (Rakerda), tapi membawa satu hal yang sama: kegelisahan tentang arah jurnalisme hari ini.
Beberapa hari sebelumnya, mereka baru saja dilantik di Pendopoan Rumah Dinas Bupati. Suasana formal, penuh seremoni. Namun malam ini berbeda. Lebih jujur. Lebih apa adanya.
Ketua SMSI Lahat, Muchtarim, duduk di tengah-tengah anggota. Tak berjarak. Ia tahu betul, tantangan yang dihadapi organisasi ini bukan hanya soal program kerja, tapi soal menjaga marwah profesi di tengah zaman yang kian bising.
“Sekarang ini, semua orang bisa jadi ‘media’. Tapi tidak semua bisa menjaga tanggung jawabnya,” ucapnya pelan, namun terasa menekan.
Kalimat itu seperti mewakili keresahan banyak yang hadir. Di luar sana, informasi beredar liar. Batas antara fakta dan opini kian kabur. Bahkan, tak jarang profesi wartawan ikut tercoreng oleh praktik-praktik yang jauh dari idealisme.
Di ruang sederhana itu, pembahasan demi pembahasan mengalir. Bukan hanya soal agenda tahunan atau kemitraan dengan pemerintah, tapi juga tentang bagaimana bertahan sebagai media yang tetap waras—di tengah derasnya arus klik, sensasi, dan kepentingan.
Ada yang bicara soal tekanan lapangan. Ada yang mengungkap sulitnya menjaga independensi. Ada pula yang hanya diam, tapi matanya menyiratkan hal yang sama: ini bukan pekerjaan mudah.
Namun di balik semua itu, ada tekad yang perlahan menguat. Rakerda ini bukan sekadar rapat. Ia menjadi ruang untuk saling menguatkan, mengingatkan kembali alasan awal memilih jalan sebagai jurnalis—menyampaikan kebenaran, bukan sekadar mengejar perhatian.
Di akhir pertemuan, tak ada tepuk tangan panjang. Hanya anggukan, saling pandang, dan kesepahaman yang tumbuh diam-diam.
Dari rumah sederhana itu, SMSI Lahat memulai langkahnya. Bukan dengan janji besar, tapi dengan kesadaran: bahwa menjaga integritas di era digital adalah perjuangan yang tidak pernah benar-benar selesai.









