Masuknya 1,9 ton sabu ke Indonesia bukan sekadar berita kriminal. Ini tamparan keras—bukan hanya ke aparat, tapi ke logika sehat kita sebagai bangsa. Ini bukan lagi soal penyelundupan, ini soal perang terbuka terhadap masa depan generasi.
Dan anehnya, dalam perang sebesar ini, yang kita lihat justru bukan dentuman ketegasan, melainkan bisik-bisik keraguan.
Perkara dengan terdakwa Fandi Ramadhan seharusnya menjadi panggung pembuktian: bahwa negara tidak main-main melawan narkotika. Tapi yang muncul justru kesan sebaliknya—seolah hukum bisa dinegosiasikan, seolah kejahatan luar biasa diperlakukan dengan rasa biasa-biasa saja.
Ini yang berbahaya.
Karena dalam kejahatan sekelas ini, yang dipertaruhkan bukan hanya satu kasus, tapi wibawa hukum itu sendiri. Ketika publik mulai bertanya—“Kenapa bisa begitu?”—itu tanda alarm sudah berbunyi. Dan kalau alarm itu diabaikan, jangan heran jika kepercayaan publik ikut runtuh perlahan.
Mari jujur.
Tidak mungkin 1,9 ton sabu masuk tanpa sistem yang bolong. Tidak mungkin jaringan sebesar itu bergerak tanpa perlindungan, tanpa kelengahan, atau—lebih parah—tanpa permainan.
Jadi ketika vonis atau proses hukumnya terasa “ringan” atau janggal, publik tidak lagi melihatnya sebagai keadilan. Mereka melihatnya sebagai kompromi.
Dan di situlah sinisme lahir.
Hukum yang seharusnya menjadi pedang, berubah jadi karet. Bisa ditarik ke sana, dilonggarkan ke sini. Tajam ke bawah, tumpul ke atas—klasik, tapi masih saja terjadi.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah negara benar-benar serius melawan narkotika, atau hanya serius saat kamera menyala?
Karena kalau 1,9 ton saja tidak cukup untuk membuat sistem hukum berdiri tegak tanpa kompromi, lalu apa yang bisa?
Ini bukan soal satu nama terdakwa. Ini soal pesan besar yang dikirim ke publik: bahwa bahkan dalam kejahatan luar biasa, keadilan masih bisa terasa… biasa saja.
Dan kalau itu terus dibiarkan, jangan salahkan rakyat jika mereka mulai percaya—bahwa hukum bukan lagi tempat mencari keadilan, tapi sekadar panggung sandiwara dengan naskah yang sudah ditentukan.









