“Hukum Ribut di Permukaan, Hiu Narkoba Tetap Berenang Tenang”

- Jurnalis

Jumat, 27 Maret 2026 - 07:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masuknya 1,9 ton sabu ke Indonesia bukan sekadar berita kriminal. Ini tamparan keras—bukan hanya ke aparat, tapi ke logika sehat kita sebagai bangsa. Ini bukan lagi soal penyelundupan, ini soal perang terbuka terhadap masa depan generasi.

 

Dan anehnya, dalam perang sebesar ini, yang kita lihat justru bukan dentuman ketegasan, melainkan bisik-bisik keraguan.

 

Perkara dengan terdakwa Fandi Ramadhan seharusnya menjadi panggung pembuktian: bahwa negara tidak main-main melawan narkotika. Tapi yang muncul justru kesan sebaliknya—seolah hukum bisa dinegosiasikan, seolah kejahatan luar biasa diperlakukan dengan rasa biasa-biasa saja.

 

Ini yang berbahaya.

 

Karena dalam kejahatan sekelas ini, yang dipertaruhkan bukan hanya satu kasus, tapi wibawa hukum itu sendiri. Ketika publik mulai bertanya—“Kenapa bisa begitu?”—itu tanda alarm sudah berbunyi. Dan kalau alarm itu diabaikan, jangan heran jika kepercayaan publik ikut runtuh perlahan.

Baca Juga :  Uang Negara Nyaris Menguap, Kasi Datun Kejari Lahat Tarik Kembali Rp1,6 Miliar

 

Mari jujur.

 

Tidak mungkin 1,9 ton sabu masuk tanpa sistem yang bolong. Tidak mungkin jaringan sebesar itu bergerak tanpa perlindungan, tanpa kelengahan, atau—lebih parah—tanpa permainan.

 

Jadi ketika vonis atau proses hukumnya terasa “ringan” atau janggal, publik tidak lagi melihatnya sebagai keadilan. Mereka melihatnya sebagai kompromi.

 

Dan di situlah sinisme lahir.

 

Hukum yang seharusnya menjadi pedang, berubah jadi karet. Bisa ditarik ke sana, dilonggarkan ke sini. Tajam ke bawah, tumpul ke atas—klasik, tapi masih saja terjadi.

Baca Juga :  Di Tengah Seruan Efisiensi, PDAM Lahat Malah ‘Piknik’ ke Bogor: Uang Rakyat Dipakai untuk Apa?

 

Pertanyaannya sederhana:

Apakah negara benar-benar serius melawan narkotika, atau hanya serius saat kamera menyala?

 

Karena kalau 1,9 ton saja tidak cukup untuk membuat sistem hukum berdiri tegak tanpa kompromi, lalu apa yang bisa?

 

Ini bukan soal satu nama terdakwa. Ini soal pesan besar yang dikirim ke publik: bahwa bahkan dalam kejahatan luar biasa, keadilan masih bisa terasa… biasa saja.

 

Dan kalau itu terus dibiarkan, jangan salahkan rakyat jika mereka mulai percaya—bahwa hukum bukan lagi tempat mencari keadilan, tapi sekadar panggung sandiwara dengan naskah yang sudah ditentukan.

Berita Terkait

Namanya Disebut Terkait Kebakaran Lahan Ulak Lebar, Fiji: “Tuduhan Itu Tidak Benar”
El Niño Mengintai Lahat, DPRD Marwan Ardiansyah S.E., M.Si., Desak Pemkab Jangan Tunggu Warga Kehausan
M. Dzaky Alvaro, Putra Pegawai Kejari Lahat, Antarkan SMAN 4 Lahat Juara 1 LCC Museum Sriwijaya
Datun Kejari Lahat Bergerak! Ahmad Muzayyin Pimpin Misi Pulihkan Kerugian Daerah Rp2,18 Miliar
Bupati Lahat Pastikan Proyek Puskesmas Pagar Gunung Sudah Diaudit BPK, Temuan Rp21 Juta Telah Dikembalikan
Dari Belitang untuk Lahat: Pelatihan Perikanan yang Berujung pada Penilaian Bupati oleh Kemendagri
Dinas Perikanan Lahat Perkuat BBI Kota Agung dan SDM Pembudidaya, Dorong Kemandirian Perikanan Daerah
Dinas Perikanan Lahat Bantah Mentah-mentah Isu Pengadaan Fiktif, Sebut Kontraktor Telat Bangun Kolam Jadi Pangkal Kekisruhan Program

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 18:44 WIB

Namanya Disebut Terkait Kebakaran Lahan Ulak Lebar, Fiji: “Tuduhan Itu Tidak Benar”

Kamis, 3 September 2026 - 15:18 WIB

El Niño Mengintai Lahat, DPRD Marwan Ardiansyah S.E., M.Si., Desak Pemkab Jangan Tunggu Warga Kehausan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:26 WIB

M. Dzaky Alvaro, Putra Pegawai Kejari Lahat, Antarkan SMAN 4 Lahat Juara 1 LCC Museum Sriwijaya

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:14 WIB

Datun Kejari Lahat Bergerak! Ahmad Muzayyin Pimpin Misi Pulihkan Kerugian Daerah Rp2,18 Miliar

Jumat, 24 Juli 2026 - 10:06 WIB

Dari Belitang untuk Lahat: Pelatihan Perikanan yang Berujung pada Penilaian Bupati oleh Kemendagri

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:18 WIB

Dinas Perikanan Lahat Perkuat BBI Kota Agung dan SDM Pembudidaya, Dorong Kemandirian Perikanan Daerah

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:11 WIB

Dinas Perikanan Lahat Bantah Mentah-mentah Isu Pengadaan Fiktif, Sebut Kontraktor Telat Bangun Kolam Jadi Pangkal Kekisruhan Program

Kamis, 25 Juni 2026 - 17:48 WIB

PT. LPPBJ Berhenti Beroperasi, Ribuan Warga Merapi Selatan Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

Berita Terbaru