Idealis.co.id — Pemerintah Kabupaten Lahat kembali melakukan penebaran (restocking) sebanyak 5.000 ekor ikan di aliran Sungai Empayang, Sabtu (18/4). Kegiatan ini dipusatkan di dua lokasi, yakni Desa Tanjung Agung dan Desa Talang Tinggi, Kecamatan Pseksu.
Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lahat, Maruli, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan langkah konkret menjaga ekosistem sekaligus keberlanjutan sumber daya perikanan masyarakat.
“Restocking ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Kami sudah menebar 5.000 ekor ikan di Sungai Empayang. Kalau tidak dijaga bersama, jangan salahkan siapa-siapa kalau hasilnya tidak akan pernah dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Ikan yang ditebar terdiri dari tiga komoditas unggulan, yakni baung, jelawat, dan nilem—jenis yang dinilai memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomis bagi warga sekitar.
Namun Maruli tidak menutup fakta bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesadaran dan pengawasan di lapangan.
“Kami dari Dinas Perikanan sudah menjalankan kewajiban. Tapi harus jujur, kalau pengawasan lemah dan kesadaran masyarakat rendah, maka program ini hanya akan jadi rutinitas tanpa hasil nyata,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan potensi kegagalan jika praktik penangkapan liar atau tidak terkendali tetap terjadi.
“Kami minta kesadaran penuh—jangan sampai ikan yang baru ditebar langsung habis ditangkap. Ini menyangkut masa depan sumber daya perikanan kita,” lanjutnya.
Meski demikian, pendekatan kolaboratif tetap dikedepankan. Pemerintah berharap masyarakat turut menjadi garda terdepan dalam menjaga hasil restocking tersebut.
“Kegiatan ini adalah upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung ekonomi masyarakat. Tanpa pengawasan dan kesadaran bersama, ikan yang ditebar tidak akan sempat berkembang. Ini tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah,” jelas Maruli.
Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan kalimat yang menjadi penegas sekaligus peringatan keras bagi semua pihak:
“Kami tebar 5.000 ikan, tapi kalau tidak dijaga, yang panen bukan masyarakat—melainkan kerugian.”
Pernyataan tersebut menjadi garis tegas: keberhasilan program bukan diukur dari jumlah ikan yang ditebar, melainkan dari seberapa besar komitmen semua pihak menjaga agar manfaatnya benar-benar dirasakan dalam jangka panjang.









