Idealis.co.id, Lahat– Konferensi Kabupaten (Konfercab) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Lahat yang akan digelar di Hotel Buser, 12 Februari 2025, hadir di tengah ekspektasi besar. Bukan hanya soal siapa yang akan memimpin, tetapi ke mana organisasi ini akan diarahkan.
Empat nama mengemuka sebagai calon Ketua PWI Lahat: Edi Ahmin, Muchtarim, Ishak Nasroni (Ujang), dan Dian. Keempatnya memiliki legitimasi dan kontribusi masing-masing. Namun justru di titik inilah PWI diuji—apakah organisasi ini akan berhenti pada figur, atau naik kelas pada nilai.
Lebih dari Sekadar Dukungan
Dukungan terbuka kepada salah satu kandidat menjadi dinamika yang tak terelakkan dalam proses demokrasi. Namun dalam organisasi profesi, dukungan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menguji gagasan, komitmen, dan sikap kepemimpinan.
PD/PRT PWI menempatkan Konfercab sebagai forum tertinggi. Artinya, segala bentuk preferensi idealnya bermuara dan diuji di ruang sidang, bukan di luar mekanisme. Di sinilah kedewasaan berorganisasi menemukan maknanya.
Kompetensi, Pengalaman, dan Realitas Lapangan
Figur Muchtarim membawa pesan penting tentang kompetensi dan standar profesi. Ishak Nasroni (Ujang) mengingatkan bahwa pengalaman organisasi adalah modal yang tak bisa diabaikan. Sementara Dian merepresentasikan realitas kerja wartawan dan tantangan media lokal hari ini. Edi Ahmin sendiri dipandang memiliki kemampuan konsolidasi dan visi perubahan.
Empat pendekatan ini sah dan diperlukan. Namun tantangannya bukan pada siapa yang paling unggul, melainkan siapa yang mampu menyatukan kelebihan itu tanpa meniadakan yang lain.
Ujian Sesungguhnya Ada Setelah Terpilih
Sejarah organisasi profesi menunjukkan, pemilihan hanyalah pintu masuk, bukan garis akhir. Tantangan sesungguhnya justru muncul setelah mandat diberikan: menjaga jarak yang sehat dengan kepentingan, membuka ruang kritik internal, serta memastikan organisasi tidak berjalan berdasarkan kedekatan, tetapi berdasarkan aturan.
Kode Etik Jurnalistik menegaskan independensi dan tanggung jawab. Nilai ini tidak berhenti di ruang redaksi, tetapi seharusnya hidup pula di ruang organisasi.
Forum yang Menentukan Arah
Konfercab PWI Lahat kali ini idealnya menjadi ruang refleksi bersama. Bukan sekadar adu jumlah dukungan, tetapi adu kelayakan gagasan dan kedewasaan sikap. Bukan pula tentang menang atau kalah, melainkan tentang siapa yang siap memikul amanah dengan rendah hati.
Keputusan akan berada di tangan anggota yang memiliki hak suara—wartawan kompeten Muda, Madya, dan Utama. Mereka bukan hanya memilih ketua, tetapi menentukan watak organisasi beberapa tahun ke depan.
Hotel Buser akan mencatat satu peristiwa penting. Bukan tentang siapa yang berdiri di podium, melainkan apakah PWI Lahat mampu menunjukkan bahwa organisasi pers masih setia pada nilai dasarnya: independen, bermartabat, dan berpihak pada profesionalisme.









