Nabi Moral di Siang Hari, Pelacur Etika di Malam Hari

- Jurnalis

Sabtu, 14 Februari 2026 - 00:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Idealis.co.id, Lahat – Di siang hari, ia berdiri seperti nabi.
Di malam hari, ia rebah seperti pelanggan.
Ia membawa kartu pers seperti kitab suci.
Ia mengutip etika jurnalistik seperti ayat suci.
Namun setiap malam, ia sendiri menjadi tafsir paling cabul dari ayat yang ia khutbahkan.

Ini bukan lagi hipokrisi—ini pornografi moral.
Di ruang publik, ia mengutuk perempuan malam sebagai “sampah sosial”.

Di ruang privat, ia menyelam di tong sampah yang sama sambil menawar harga.
Ia memaki hiburan malam sebagai sarang setan.
Tapi ia datang sebagai jamaah tetap, menyumbang infak pada altar dosa yang ia ceramahi.

Baca Juga :  PT. SERD Berkolaborasi Bersama Anggota DPRD Lahat Dapil 3 Dan PWI Lahat Salurkan Bantuan Banjir Bandang

Kartu persnya bukan lagi identitas profesi—tapi paspor menuju neraka yang ia dirikan sendiri.
Ia bicara integritas, tapi hidup dari integritas yang diperkosa.

Ia bicara moral, tapi menjual moral seperti diskon happy hour.

Ia bicara dosa orang lain, sambil mencetak dosa pribadi seperti mesin cetak koran.
Di siang hari ia wartawan.
Di malam hari ia konsumen moral yang bangkrut.

Baca Juga :  Insan Pers Bersama TBUPP Kabupaten Lahat bersilaturahmi Ke Koramil 405-07/Pulau Pinang Berikut Bahasan Pentingnya

Ia bukan penjaga gerbang publik,
ia penjaga loket kemunafikan.
Dan di negeri ini, orang seperti dia tidak merasa bersalah—karena hipokrisi sudah dilegalkan sebagai profesi informal:
“Pekerja Moral Palsu Bersertifikat.”
Jika neraka punya konferensi pers,
dialah juru bicaranya.

Bangsa ini terlalu lama tertipu oleh orang yang pandai berteriak “moral”.
Padahal sering kali, yang paling keras menjerit soal kesucian,
adalah yang paling takut jika lampu kamar dinyalakan.

Berita Terkait

ODOL: Hukum yang Kelebihan Muatan, Akal Sehat yang Kekurangan Rem
Birokrasi Lahat, Antara Loyalitas atau Kompetensi? Jangan-Jangan Kursi OPD Hanya Milik “Orang Dekat”
“Hukum Ribut di Permukaan, Hiu Narkoba Tetap Berenang Tenang”
Bursah Zarnubi: Banyak Orang Viral Tanpa Kaidah Jurnalistik, Wartawan Harus Waspada
Zakat, Sekda, dan Nada Menggurui: Ketika Kebijaksanaan Tertinggal di Kolom Komentar
Buku Tamu dan Luka Lama di Rumah Persatuan Wartawan Indonesia
Isu “Pesanan” di Balik Kursi Panas Dinas Pendidikan Lahat: Generasi Dipertaruhkan, Bukan Sekadar Jabatan
NICOLAS MADURO

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 21:07 WIB

ODOL: Hukum yang Kelebihan Muatan, Akal Sehat yang Kekurangan Rem

Sabtu, 28 Maret 2026 - 13:43 WIB

Birokrasi Lahat, Antara Loyalitas atau Kompetensi? Jangan-Jangan Kursi OPD Hanya Milik “Orang Dekat”

Jumat, 27 Maret 2026 - 07:12 WIB

“Hukum Ribut di Permukaan, Hiu Narkoba Tetap Berenang Tenang”

Jumat, 13 Maret 2026 - 21:33 WIB

Bursah Zarnubi: Banyak Orang Viral Tanpa Kaidah Jurnalistik, Wartawan Harus Waspada

Senin, 9 Maret 2026 - 06:40 WIB

Zakat, Sekda, dan Nada Menggurui: Ketika Kebijaksanaan Tertinggal di Kolom Komentar

Selasa, 3 Maret 2026 - 14:48 WIB

Buku Tamu dan Luka Lama di Rumah Persatuan Wartawan Indonesia

Minggu, 1 Maret 2026 - 11:43 WIB

Isu “Pesanan” di Balik Kursi Panas Dinas Pendidikan Lahat: Generasi Dipertaruhkan, Bukan Sekadar Jabatan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 00:21 WIB

Nabi Moral di Siang Hari, Pelacur Etika di Malam Hari

Berita Terbaru