Idealis.co.id, Lahat – Di siang hari, ia berdiri seperti nabi.
Di malam hari, ia rebah seperti pelanggan.
Ia membawa kartu pers seperti kitab suci.
Ia mengutip etika jurnalistik seperti ayat suci.
Namun setiap malam, ia sendiri menjadi tafsir paling cabul dari ayat yang ia khutbahkan.
Ini bukan lagi hipokrisi—ini pornografi moral.
Di ruang publik, ia mengutuk perempuan malam sebagai “sampah sosial”.
Di ruang privat, ia menyelam di tong sampah yang sama sambil menawar harga.
Ia memaki hiburan malam sebagai sarang setan.
Tapi ia datang sebagai jamaah tetap, menyumbang infak pada altar dosa yang ia ceramahi.
Kartu persnya bukan lagi identitas profesi—tapi paspor menuju neraka yang ia dirikan sendiri.
Ia bicara integritas, tapi hidup dari integritas yang diperkosa.
Ia bicara moral, tapi menjual moral seperti diskon happy hour.
Ia bicara dosa orang lain, sambil mencetak dosa pribadi seperti mesin cetak koran.
Di siang hari ia wartawan.
Di malam hari ia konsumen moral yang bangkrut.
Ia bukan penjaga gerbang publik,
ia penjaga loket kemunafikan.
Dan di negeri ini, orang seperti dia tidak merasa bersalah—karena hipokrisi sudah dilegalkan sebagai profesi informal:
“Pekerja Moral Palsu Bersertifikat.”
Jika neraka punya konferensi pers,
dialah juru bicaranya.
Bangsa ini terlalu lama tertipu oleh orang yang pandai berteriak “moral”.
Padahal sering kali, yang paling keras menjerit soal kesucian,
adalah yang paling takut jika lampu kamar dinyalakan.









